PANEN TIBA – PETANI BERSEDIH

Batuampar@sideka.id-kampung Batu Ampar- Kecamatan Gedung Aji Baru- Kabupaten Tulang Bawang  ,Sabtu 07 April 2018, Kampung Batu Ampar yang memiliki luas lahan persawahan kurang lebih 602 hektar ini 95% telah tergarap semua dan tanamanya pun tidak mengecewakan rata rata mencapai 6 sampai dengan 7 ton perhektar di saat panen,. Namun kenapa pasca panen ini petani kami bersedih dan was-was.

Foto Gambar 01, bukti adanya padi yang menguning ** Dok oleh (ART 399 )

Faktanya  kini padi telah menguning sebentar lagi harus segera di panen , namun hingga saat ini mesin pemanen (combien) satu pun belum ada yang datang, agen agen Alat pemanen (combien ) yang biasanya berlomba memasukan alat pun saat ini kesusaha mendapatkan nya, faktanya musim panen tahun ini hampir semua merata atau bersamaan sehingga kampung kami tidak kebagian,

Ini kelemahan kami,  yang tidak memiliki alat panen sendiri, yang hanya mengandalkan kedatangan alat dari daerah lain sehingga disaat musim panen bersamaan kamipun harus kebingungan , was was jika dalam waktu dekat ini kami belum juga mendapatkan alat panen tersebut kerugian besar lah yang akan menimpa kami, bagai mana tidak semenjak adanya alat moderen (combain) kini petani yang  dulunya memiliki mesin penggilas treser padi sudah tidak lagi di gunakan alhasil alatnyapun sudah  pada rusak,.

Foto 02 hamparan padi yang mulai menua** dok (ART 399 )

 

Usaha petani untuk mendapatkan mesin panen sendiri sudah tidak kekurangan akal, proposal dan proposal permohonan COMBAIN Sudah sering kali di kirimkan kedinas terkait, alhasil hingga saat ini hasilnya pun belum kami dapatkan, hingga pernah kelompok tani kampung batu ampar ini bersamaan mengajukan proposal yang isinya meminta bantuan alat panen Combain bersamaan , namun hasilnyapun belum  didapat,

 

Foto 02 Hamparan padi dengan buah yang berbobot ** dok (ART 399 )

Yang lebih mirislagi musim panen tahun ini bersamaan dengan  musim penghujan,  dengan keadaan jalan pertanian yang masih murni tanah lempung ini petani pun kembali harus memikirkan pengeluaran untuk membayar ojek hasil panen dengan  harga 5000 sapai 7000 per karung,

Coba bayangkan ,bila panen tertunda karna telatnya alat panen, petani harus rela kehilangan bobot padinya karna di panen terlalu tua,   kemudian  petani harus rela harga padinya turun karna susahnya transpotasi, petani harus relan membayar 5-7 ribu per karung untuk mengeluarkan hasil panen,. Berapa kerugian petani kami di musim ini?????

 

.

 

Di pos oleh** (mo`ong )

 

 

 

 

 

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan